Berhati-Hatilah Jikalau Menyalip Kendaraan Di Jalan Pantura

13



Otomotif – Kondisi rute Jalur Pantai Utara atau Pantura rupanya belum banyak mengalami perubahan, terutama untuk permukaan aspal.

Darihasil penelusuran tim redaksi Kompas.com yang menggelar Komparasi Jalur Trans Jawa memakai Mitsubishi Xpander, banyak menemukan aspal di sepanjang Pantura yang bergelombang dan berlubang.
Setelah melewati Simpang Jomin, menuju arah ke Cirebon Jawa Barat, aspal bergelombang masih cukup mendominasi, kondisi ini terjadi lantaran banyaknya kendaraan alat berat yang melintasi Pantura. Namun yang menjadi perhatian redaksi yaitu adanya fenomena kebiasaan kemudian lintas yang tak lazim.
Bila biasanya kendaraan alat berat ibarat truk atau kontiner melintas di jalur lambat yang berada di sebelah kiri, maka hukum ini tak berlaku di Pantura. Iring-iringan kendaraan berat mendominasi jalur kanan yang biasa dipakai sebagai ruas untuk kendaraan lebih kencang, jadinya memaksa kendaraan beroda empat yang ingin mendahului harus menyalip dari sebelah kiri.
Menurut Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuh, fenomena tersebut terjadi sudah cukup lama, bahkan menjadi sebuah kebiasaan yang menahun dilakukan para sopir kendaraan berat di lintas Pantura.
“Memang di Pantura kendaraan berat kebanyakan melintas di kanan, sebabnya permukaan aspal di kiri itu dulu sangat rusak, bahkan hingga sekarang. Untuk menghindari permukaan berlubang yang dapat menciptakan truk terjebak atau terguling, mereka akhirnya berjalan ke jalur cepat. Dampaknya memang menciptakan kendaraan lebih cepat harus menyalip dari jalur lambat yang cukup berbahaya juga,” ujar jusri.

Meski dianggap sudah menjadi kondisi yang biasa, tapi dampaknya kini aspal di lajur kanan banyak yang rusak, hampir rata-rata bergelombang yang menciptakan jalan terasa bumpy ketika dilintasi. Soal menyalip truk atau kendaraan berat dari sebelah kiri juga wajib disikapi lantaran sangat berisiko.
Umumnya ketika siang hari, lajur kiri didominasi oleh sepeda motor atau pun kendaraan pengangkut hasil pertanian desa yang jalannya lambat. Menurut Jusri, ketika mau melaksanakan manuver untuk menyalip, hal paling utama yang harus dilakukan yaitu memastikan kondisi di depan serta jarak kerapatannya.
“Pastikan kondisi kiri bebas dari kendaraan lain, jangan lupa melihat kerapatan lantaran truk pengangkut barang itu mempunyai dimensi yang lebih lebar. Intinya ketika akan menyalip, harus benar-benar full konsentrasi. Jangan lupa waspadai kendaraan yang menyalip dari lawan arah. Lebih baik menyerah jangan terbawa emosi, apalagi kalau tidak mengetahui medannya,” ucap Jusri.

Comments are closed.